Ya, anak yang suka bermain game bisa cocok dikenalkan dengan programming, tetapi suka game saja tidak berarti anak otomatis berbakat atau pasti menyukai coding. Minat terhadap game dapat menjadi titik awal yang menarik, terutama ketika anak mulai penasaran bagaimana sebuah game dibuat dan tertarik mencoba membuat sesuatu sendiri.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas yang menghubungkan game dengan programming dapat membantu meningkatkan motivasi, pemahaman konsep programming, hingga kemampuan problem solving. Namun, kecocokan anak tetap lebih terlihat dari bagaimana ia menikmati proses belajar, bereksperimen, dan menyelesaikan masalah.
Kenapa Anak yang Suka Game Bisa Tertarik Programming?
Bermain game dan membuat program adalah dua aktivitas yang berbeda. Saat bermain, anak menikmati sistem yang sudah dibuat. Dalam programming, anak justru belajar bagaimana sebuah sistem dibuat dan bagaimana instruksi dapat menghasilkan sesuatu yang bisa dijalankan.
Ketertarikan terhadap game bisa menjadi awal yang baik karena anak sudah familiar dengan konsep seperti karakter, level, skor, aturan permainan, atau tantangan. Ketika rasa penasaran berkembang dari sekadar “bagaimana cara memenangkan game ini?” menjadi “bagaimana game seperti ini dibuat?”, programming bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk dicoba.
Riset oleh Denner, Campe, dan Werner pada 2019 meninjau 68 penelitian mengenai anak yang mendesain dan memprogram game. Hasilnya menunjukkan adanya bukti bahwa aktivitas tersebut dapat memberikan perubahan pada pengetahuan programming, kemampuan problem solving, serta sikap dan kepercayaan diri terhadap computer science.
Suka Bermain Game Bukan Berarti Pasti Suka Coding
Meski keduanya berhubungan dengan teknologi, menikmati sebuah game tidak sama dengan menikmati proses programming. Programming melibatkan proses menyusun logika, mencoba solusi, menemukan kesalahan, lalu memperbaikinya hingga program dapat bekerja sesuai tujuan.
Karena itu, minat bermain game sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda bahwa seorang anak pasti berbakat programming. Penelitian yang ada lebih banyak menunjukkan manfaat ketika anak benar-benar terlibat dalam aktivitas membuat program atau game, bukan hanya ketika mereka menjadi pemain.
Meta-synthesis Denner, Campe, dan Werner juga menunjukkan bahwa hasil dari berbagai penelitian tidak selalu sama. Meski ditemukan bukti manfaat terhadap pengetahuan programming, problem solving, serta sikap terhadap computer science, temuan tersebut tidak berarti setiap anak yang menyukai game akan mendapatkan hasil yang sama.
Game Bisa Menjadi Jembatan Menuju Programming
Salah satu alasan game menarik digunakan sebagai konteks belajar adalah kemampuannya membuat aktivitas programming terasa lebih relevan bagi anak.
Systematic literature review oleh Giannakoulas dan Xinogalos yang mencakup 61 studi menemukan bahwa educational programming games dapat membantu siswa sekolah dasar mengembangkan computational thinking dan memahami konsep dasar programming. Studi tersebut juga menemukan adanya sikap positif terhadap penggunaan game untuk belajar, serta persepsi bahwa game dapat menjadi motivator untuk terlibat dalam aktivitas computational thinking.
Temuan tersebut sejalan dengan meta-analysis terhadap 21 studi mengenai gamification dalam pendidikan programming. Hasil analisis menunjukkan dampak positif terhadap pembelajaran programming, dengan efek terbesar ditemukan pada motivasi dan kemudian pencapaian akademik.
Artinya, ketertarikan anak terhadap dunia game dapat dimanfaatkan sebagai jembatan untuk mengenalkan sisi lain dari teknologi: bukan hanya menggunakan atau memainkan sesuatu, tetapi memahami bagaimana sesuatu dapat dibuat.
Apa yang Dilakukan Anak Saat Belajar Programming?
Programming memberi kesempatan kepada anak untuk berpindah dari posisi pengguna menjadi pembuat. Anak tidak hanya melihat apa yang terjadi di layar, tetapi mulai memahami bahwa sebuah tindakan dapat terjadi karena ada instruksi dan logika di belakangnya.
Studi mengenai penggunaan Scratch pada anak dan remaja usia 8–18 tahun memberikan contoh bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Penelitian tersebut menganalisis 536 proyek Scratch selama 18 bulan dan menemukan pembelajaran konsep-konsep penting programming melalui proyek yang dibuat oleh peserta.
Karena itu, salah satu cara mengetahui apakah anak yang suka game juga tertarik dengan programming adalah dengan memberinya kesempatan mencoba membuat sesuatu. Dari proses tersebut, orang tua dapat melihat apakah anak menikmati aktivitas menyusun logika, bereksperimen, dan mengembangkan sebuah proyek.
Tanda Minat yang Lebih Penting daripada Sekadar Suka Game
Daripada hanya melihat seberapa sering anak bermain game, perhatikan ketertarikannya terhadap proses di balik game tersebut. Apakah ia penasaran bagaimana sesuatu dibuat? Apakah ia tertarik mencoba membuat proyek sendiri? Apakah ia menikmati proses mencoba dan memperbaiki ketika sesuatu belum berhasil?
Hal-hal seperti ini lebih relevan untuk melihat ketertarikan anak terhadap programming dibandingkan sekadar melihat kebiasaannya bermain game. Riset yang tersedia menunjukkan manfaat ketika anak aktif terlibat dalam programming, game creation, dan aktivitas computational thinking.
Jadi, Apakah Anak yang Suka Game Cocok Belajar Programming?
Anak yang suka game layak diberi kesempatan untuk mencoba programming, tetapi kecocokannya tidak dapat ditentukan hanya dari kebiasaan bermain game. Game dapat menjadi titik awal yang familiar dan menarik, sementara ketertarikan sebenarnya terhadap programming akan terlihat ketika anak mulai mencoba membuat, bereksperimen, memecahkan masalah, dan memahami logika di balik sebuah program.
Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran programming yang berkaitan dengan game dapat mendukung motivasi, computational thinking, pengetahuan programming, dan problem solving. Namun, fokusnya tetap pada keterlibatan anak dalam proses membuat dan belajar, bukan sekadar pada kesukaannya bermain game.
Frequently Asked Questions
1. Apakah anak yang suka game pasti berbakat coding?
Tidak. Suka bermain game tidak otomatis menunjukkan bakat programming. Ketertarikan tersebut lebih tepat dilihat sebagai salah satu pintu masuk untuk mengenalkan anak pada programming.
2. Apa hubungan game dengan belajar programming?
Game dapat memberikan konteks yang familiar untuk mengenalkan konsep programming. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas berbasis game dan pembuatan game dapat membantu motivasi, computational thinking, serta pemahaman konsep programming.
3. Bagaimana mengetahui anak cocok belajar programming?
Salah satu caranya adalah memberi anak kesempatan mencoba programming dan melihat bagaimana responsnya terhadap proses membuat proyek, menyusun logika, bereksperimen, serta menyelesaikan masalah.
Mulai Kenalkan Anak dengan Programming
Jika anak Anda suka bermain game dan mulai penasaran bagaimana teknologi di baliknya dibuat, programming bisa menjadi hal menarik untuk dikenalkan. Biarkan anak mencoba terlebih dahulu dan melihat apakah ia menikmati proses membuat, bereksperimen, dan memecahkan masalah.
Pelajari lebih lanjut tentang programming dan berbagai materi teknologi untuk anak bersama kami di Koding Akademi melalui Koding Akademi.